Home Bahasa Church & Society (Bahasa) Akhiri lawatan Asia, Paus Fransiskus desak umat Kristen melindungi kehidupan

Akhiri lawatan Asia, Paus Fransiskus desak umat Kristen melindungi kehidupan

Menumpang pesawat kepausan Paus Fransiskus kembali ke Roma pada pagi hari 26 November dari Bandara Haneda Tokyo, menandai akhir perjalanan Apostoliknya di Asia.

Paus Fransiskus tiba di Thailand pada 20 November untuk paruh pertama perjalanannya dan tiba di Jepang pada tanggal 23. Itu adalah kunjungan paus yang keempat di Asia.

Paus yang berusia 82 tahun mengunjungi Bangkok dan Sampran di Thailand dan kemudian kota-kota Nagasaki, Hiroshima, dan Tokyo di Jepang selama perjalanan 7 hari.

Pada 25 November, paus merayakan Misa untuk Kunjungan Kerasulan ke-32 di Tokyo Dome Stadium.

Dalam homilinya, paus mengatakan komunitas Kristen “diundang untuk melindungi semua kehidupan dan bersaksi dengan kebijaksanaan dan keberanian terhadap cara hidup yang ditandai oleh rasa terima kasih dan kasih sayang, kemurahan hati, dan mendengarkan.”

Paus mengatakan komunitas Kristen “adalah komunitas yang mampu merangkul dan menerima kehidupan apa adanya, dengan segala kerapuhan dan kesederhanaannya, dan seringkali pula dengan konflik dan gangguannya.”

“Kita dipanggil untuk menjadi komunitas yang dapat belajar dan mengajarkan pentingnya menerima hal-hal yang tidak sempurna, yang murni atau ‘dimurnikan’, namun tidak kalah penting dengan cinta,” katanya.

“Apakah orang cacat atau lemah tidak layak untuk dicintai?” tanya Paus.

‘Jangan pernah putus asa’

Sebelum perayaan Ekaristi, Paus Fransiskus bertemu dengan orang-orang muda di Katedral St. Maria di Tokyo.

Paus Fransiskus berterima kasih kepada orang muda atas “perhatian yang penuh persahabatan” dan “karena waktu yang kalian telah berikan kepada saya dan untuk membagikan sesuatu tentang kehidupan kalian.”

Dia mendesak orang-orang muda untuk tidak pernah putus asa atau mengesampingkan impian mereka.

“Beri banyak ruang untuk impian, berani melihat cakrawala luas dan lihat apa yang menanti kalian jika kalian bercita-cita untuk mencapainya bersama,” katanya.

Dia memberi tahu orang-orang muda bahwa Jepang membutuhkan orang muda, dan “dunia membutuhkanmu, untuk bermurah hati, ceria dan antusias, dan mampu membuat rumah bagi semua orang.”

Paus Fransiskus mengatakan kehadiran kaum muda dan persahabatan yang mereka tawarkan mengingatkan semua orang bahwa masa depan bukanlah monokrom. “Jika kita berani, kita dapat merenungkannya dalam semua variasi dan keragaman apa yang ditawarkan oleh setiap individu.”

Dia mengingatkan mereka untuk tidak takut karena “ketakutan selalu menjadi musuh kebaikan karena itu adalah musuh cinta dan kedamaian.”

“Agama-agama besar mengajarkan toleransi, harmoni, dan belas kasihan, bukan rasa takut, perpecahan, dan konflik. Yesus terus-menerus mengatakan kepada para pengikut-Nya untuk tidak takut,” kata paus.

Undangan

Kehadiran paus di Thailand adalah tanggapan atas undangan dari pemerintah Thailand dan Konferensi Waligereja Thailand.

Dia mengunjungi kerajaan itu dari 20-23 November sebagai “peziarah perdamaian dan untuk mempromosikan dialog antaragama.”

Kunjungan pemimpin Gereja Katolik itu juga terjadi selama peringatan 350 tahun berdirinya Vikariat Apostolik Thailand, yang sebelumnya dikenal sebagai Siam.

Pada Mei 2018, Walikota Nagasaki Tomohisa Taue mengundang paus untuk mengunjungi Nagasaki dan Hiroshima, dua kota Jepang yang dihancurkan oleh serangan nuklir selama Perang Dunia II.

Pada 17 Desember 2018, Paus Fransiskus menyatakan keinginannya untuk mengunjungi Jepang selama pertemuannya dengan Kardinal Manyo Maeda. Setelah satu bulan, Vatikan mengumumkan rencana untuk mengunjungi negara itu.

Leave a Reply

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge



MOST POPULAR

TRENDING